Sya’ban, Bulan Ziarah Nabi Allah Hud As, Di Kota Tarim

811

fokusbatulicin.net – Nabi Hud AS adalah nabi yang diutus Allah SWT untuk kaum ‘Ad yang tinggal di wadi’ Ahgaff, Hadhramaut, Yaman.

Penduduk Hadhramaut, Yaman mempunyai tradisi ziarah tahunan ke makam Nabi Hud AS selama satu minggu penuh.

Tradisi ziarah ini biasanya digelar di bulan Syakban, seminggu waktu ziarah merupakan waktu libur tahunan bagi para pekerja dan petani yang ada di sana.

Mereka bisa leluasa untuk beribadah penuh dan menyiapkan mental sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Pada masa Syeikh Abdullah Ba’abbad Abad ke-7 H, ziarah Nabi Hud didakan setelah musim panen kurma.

Kemudian, pada masa Assayyid Assyeikh Abu Bakar bin Salim (992 H), ziarah Nabi Hud As mulai ditradisikan pada bulan Syakban setiap tahunnya.

Penduduk Hadhramaut berpergian ke makam Nabi Hud secara berkelompok-kelompok dan di sekitar makam Nabi Hud.

Masing-masing kafilah memiliki rumah tersendiri yang difungsikan setiap tahunnya untuk istirahat dan saling silaturrahmi antar kafilah.

Bahkan uniknya, banyak di antara penduduk Hadhramaut melakukan ziarah dengan menunggangi onta masing-masing yang sudah dihias secantik mungkin.

Sebelum berangkat para rombongan melakukan Tahwid; berupa Syair zikir, pujian, selawat, dan sebagainya.

Di tengah perjalanan pun mereka senantiasa mengumandangkan zikir dan menziarahi makam-makam para Auliya’ yang mereka lewati.

Tidak ketinggalan, para penziarah dari berbagai negara turut meramaikan ziarah tahunan Nabi Hud As kali ini, sebagian di antara mereka berdatangan dari Indonesia, Malasyia, Singapura, Thailand, bahkan dari benua Eropa pun tak ketinggalan. bisa dipastikan bahkan ribuan manusia berkumpul ditempat ini.

Baca Juga  TANYA JAWAB SEPUTAR ZAKAT

Selama seminggu, ziarah rutin tahunan ini sudah terjadwal per harinya. Pada pagi hari biasanya para penziarah memulai ziarah dengan mengambil air wudhu’ dari sungai yang ada di dekat makam Nabi Hud, namun berhubung ziarah kali ini sungainya lagi kering jadi para penziarah mengambil air wudhu’ di kran-kran yang ada dekat sungai sebagai simbolik mengikuti para Masyaikh terdahulu.

Dilanjutkan dengan salat sunah wudhu’ di sekitar sungai, terus naik ke makam Nabi Hud yang berada di atas gunung secara berjamaah perkabilah masing-masing, diiringi dengan zikir, pujian, dan selawat.

Selanjutnya, di atas para penziarah disuguhi dengan wejangan dari para Masyaikh dan Habaib, seperti: Al Habib Umar bin Hafiz, Habib Abu Bakar Al Adeni, dan Ulama serta Habaib yang lainnya.

Selain itu, para penziarah juga turut membaca selawat yang dipimpin oleh para munsyid-munsyid (penyair) sampai menjelang waktu Zuhur.

Begitu juga saat sore hari, mereka para penziarah mendengarkan wejangan dari para Da’i dan membaca syair-syair pujian sampai menjelang Maghrib.

Di malam hari pun, mereka juga disuguhi dengan ceramah-ceramah agama dan selawatan dari para munsyid (penyair).

Menjelang tidurnya, para penziarah sibuk membaca Al Quran, zikiran, dan selawatan masing-masing, juga banyak di antara mereka bangun malam untuk melaksanakan salat sunah Tahajud.

Para penziarah sibuk beribadah dan membersihkan diri dari hawa nafsu selama berziarah sebagai persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan kedepannya.

Baca Juga  Tradisi Bakuntaw, Nyaris Punah

“Ongkos yang saya keluarkan untuk ziarah dari Indonesia ke sini, lamanya perjalanan, lelah karena jauh, semua itu sangatlah keci, tidak sebanding jika dibandingkan dengan besarnya manfaat yang saya didapatkan setelah ziarah nabi Hud, mengingat selama ziarah, kita bisa khusyuk untuk beribadah, tidak ada internet, sinyal seluler, dan lain-lain. Suasana yang sangat mendukung untuk orang yang pengen merasakan khusyuknya beribadah, belum lagi hampir setiap saat kita akan bertemu ulama ulama hebat dari beberapa negara, ini semua berkah yang sangat luar biasa” ucap Ustadz Muhammad Fadli bin Aqif Assasaqy seorang pziarah asal Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Indonesia.

Guru Fadli, sapaan Pimpinan Majlis Hikmatul Muhibbin ini, mengaku sudah beberapa kali menghadiri ziarah Nabi Hud As di kota Tarim ini, bahkan diluar musim ziarah tahunan, dirinya setiap tahun menyempatkan diri mengikuti kegiatan Daurah di Pondok Pesantren Darul Musthofa Tarim, sekaligus berziarah.

“setiap kali meninggalkan kota tarim, selalu ada rindu untuk kembali ke kota ini” ucapnya

Sementara itu, Disetiap waktu ziarah Nabiallah Hud As, Al Habib Umar bin Syekh Abubakar Bin Salim, senantiasa berpesan kepada para penziarah, untuk terus meningkatkan amal ibadah selama ziaah, dan juga kiranya setelah ziarah, hendaknya melakukan perubahan ke arah yang lebih positif dalam ketaqwaan, baik perkataan, tindakan, moral, dan lainnya. (fad)