Sungai Barito Asam, Ribuan Ikan Mengapung

559

fokusbatulicin.net – Air Sungai Barito sudah beberapa hari ini mengalami tingkat keasaman yg cukup tinggi. akibatnya 2.580.000 keramba milik petani yang bergantung pada jalur sungai inipun mati mengapung.

“Ini mirip dengan kejadian di awal 2015, ketika ribuan ikan mati akibat air yang terlalu asam,” sahut Wakil Bupati Batola, H Rahmadian Noor, Rabu (8/1)

Akibatnya tak banyak yang dapat dilakukan petani ikan keramba jala apung di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai, ketika air Sungai Barito masih asam seperti ini.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Barito Kuala, Selasa (7/1), PH air Sungai Barito mencapai 4 sampai 4,5 atau kurang dari standar 5 hingga 8,5.

Kemudian oksigen terlarut (DO) hanya 1,8 sampai 3,8 dari seharusnya minimal 5 poin. Sementara kandungan besi (Fe) mencapai 0,25 hingga 1,5. Sedangkan NH3 tidak bisa diukur lantaran terlalu rendah.

Baca Juga  Pramono : OTT Bupati Sidoarjo Bukti KPK Masih Kuat!!

“Setelah kemarau yang cukup panjang, pirit tertumpuk di hulu sungai. Kemudian memasuki musim hujan, pirit larut ke hilir dan meningkatkan keasaman,” imbuhnya.

Agar kejadian serupa tak terulang, dibutuhkan pengecekan berulang-ulang oleh DKPP maupun Dinas Lingkungan Hidup. Pun petani juga dianjurkan memperhatikan hasil penelitian tersebut.

“Sebenarnya di pertengahan November 2019, DKPP melaporkan sudah mengecek pH air Sungai Barito. Hasilnya keasaman air masih memenuhi baku mutu,” papar Rahmadi.

“Namun keasaman berubah cepat, seiring curah hujan yang tinggi. Seandainya kemarau tak terlalu panjang, mungkin keasaman masih bisa ditoleransi seperti tahun-tahun sebelumnya,” sambungnya.

Sekedar diketahui, Awal musim hujan di Batola sendiri dimulai akhir Oktober hingga awal November 2019, atau hampir mendekati perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru.

Baca Juga  Peringatan HPSN, Digelar Di Tanbu

Kemudian curah hujan di Batola diperkirakan mencapai puncak sejak pertengahan hingga akhir Januari 2020, lalu mulai berkurang mulai akhir Februari atau awal Maret.

Kendati hujan di Batola menurun mulai awal Maret, debit Sungai Barito bukan berarti berkurang. Hal tersebut disebabkan peningkatan curah hujan di hulu sungai, tepatnya di wilayah Kalimantan Tengah.

Diperkirakan curah hujan di Kapuas, Barito Utara dan Barito Selatan yang berada di hulu Sungai Barito, mencapai puncak sekitar Maret 2020.

“kalau hujan di hulu lebih sering terjadi, itu yang dapat memicu  timbulnya zat keasaman Sungai Barito” timpal Syaiful Asgar, Kabid Perikanan Budidaya DKPP Batola. (TFB)