Riwayat Datu Sulaiman Amuntai

1501
Fokusbatulicin.net – Pada sekitar abad ke 18 ada sepasang suami istri dari Padang Basar Amuntai Hulu Sungai Utara yang hidup rukun, tidak tercatat secara pasti nama mereka,pada suatu hari mereka pergi ke Martapura yang pada saat itu merupakan ibukota kerajaan Banjar, mereka berkunjung kepada sanak keluarganya yang berada di Martapura melalui sungai dengan membawa perahu atau jukung besar khas Banjar.
Setelah saling melepas rindu dengan sanak keluarganya mereka pamit pulang, tapi alangkah terkejutnya mereka ketika sampai keperahu, ternyata didalam perahu sudah ada seorang bayi mungil.
Sadar bahwa bayi tersebut bukan anak mereka, mereka lalu melaporkannya kepada masyarakat sekitarnya, tak lama kemudian datanglah seluruh masyarakat Martapura untuk melihat bayi tersebut.
Ternyata dari semua masyarakat itu tak ada satupun yang mengaku bahwa bayi tersebut bayi mereka, akhirnya setelah dibicarakan dengan warga setempat, akhirnya bayi tersebut mereka bawa pulang kekampung halamannya untuk di didik dan dipelihara seperti anak kandung mereka sendiri, dan diberi nama Sulaiman.
Ternyata anak tersebut bukan sembarangan, banyak keganjilan keganjilan yang terjadi sejak iya masih bayi, pada saat bayi anak tersebut tidak pernah mau minum susu, ia cuma mau minum air putih, dan setiap waktu sholat anak tersebut pasti bangun dan tidak mau tidur, keanehan lain pada saat bulan Ramadhan tiba dan orang orang melaksanakan puasa, pada siang hari bayi tersebut tidak mau minum, kecuali saat tibanya berbuka puasa baru bayi tersebut baru mau minum, hal tersebut terus terjadi hingga iya semakin besar.
Semakin tumbuh besar iya makin banyaklah keanehan keanehan yang terjadi dengan dirinya, selain dipanggil dengan Datu Sulaiman beliau juga dipanggil oleh masyarakat dengan nama Datu Burung.
Kenapa jadi dipanggil Datu Burung hal ini ada kejadiannya, pada suatu hari beliau yang pada saat itu masih kanak kanak disuruh oleh orang tuanya untuk menunggu padi yang pada saat itu tengah dijemur, padi tersebut dijaga supaya jangan sampai dimakan ayam dan binatang lainnya, sebagai anak yang patuh dan berbakti dengan orang tuanya beliau tidak menolak, tapi apa yang terjadi.
Apa yang dilakukannya membuat orang tuanya dan seluruh masyarakat kampung menjadi gempar, ternyata untuk melaksanakan tugas yang diberikan orang tuanya beliau naik keatas pohon pisang yang dekat dengan jemuran tersebut, lalu duduk diatas daun pisang tersebut.
Anehnya jangankan patah daun pisang tersebut, lenturpun tidak dan sejak beliau menunggui jemuran tersebut tak seekor ayam pun yang berani mendekat.
Tidak tercatat apakah setelah beliau dewasa, beliau menyebarkan ilmu ilmunya atau diketahui siapa guru guru beliau, yang ada cuma kesaktian kesaktian beliau yang masih disimpan masyarakat sampai kini.
Pada suatu ketika belanda mau menyerang desa Padang Basar amuntai dan sekitarnya, karena desa Padang Basar terletak ditepi sungai Tabalong maka Belanda melakukan penyerangan melalui sungai dengan kapal laut.  Mengetahui hal tersebut masyarakat segera melaporkan hal tersebut kepada Datu Sulaiman.
“Datu !!..Belanda mau menyerang kampung kita,mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini” kata salah seorang warga melapor.
“Tenang ..mereka takkan sampai kesini” sahut Datu Sulaiman.
“mereka sudah dekat Datu, mari kita siapkan segalanya”….
“baik..panggil semua kawan kawan kumpul semua..” ujar Datu
setelah semua pejuang berkumpul beliau lalu mengajak mereka semua ketepi sungai Tabalong,beliau mencari tali lalu dibentangkan melintang keseberang sungai.
“untuk apa tali itu dibentangkan menyeberang sungai ..Datu” tanya seorang warga.
“untuk menghalangi kedatangan Belanda ke daerah kita…”sahut Datu Sulaiman.
Benar saja ketika Belanda mendekati kampung Padang Basar mereka melihat bahwa sungai yang mereka arungi buntu,dan akhirnya merekapun berbalik arah tidak jadi menyerang daerah Padang Basar dan sekitarnya.
Konon kabarnya apabila Datu Sulaiman ingin makan ikan, ikan yang sedang berkeliaran bebas disungai beliau ambil begitu saja, tanpa menggunakan alat yang lazim dipakai orang, dan juga bila beliau ingin (mengurung ( bahasa banjar) menangkap ikan yang berkeliaran disungai, beliau pancangkan empat buah bilah atau tongkat berbentuk segi empat maka ikan yang berada didalam keempat bilah tersebut tidak bisa lepas.
Pada suatu hari beliau menanam pohon Ketapi dimuka rumah beliau, keada keluarganya beliau berpesan agar tanaman tersebut dipelihara,kalau pohon Kutapi ini sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka ajalnya akan tiba, ternyata apa yang dikatakan beliau benar adanya,pada saat pohon Kutapi tersebut sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka wafatlah beliau.
Sebelum beliau wafat beliau sempat berwasiat agar supaya beliau dimakamkan di Kampung Padang Basar yang merupakan kampung beliau, tapi ketika wafatnya oleh pemerintah setempat beliau dimakamkan di kampung Pangacangan.
Karena tidak sesuai dengan wasiat maka pada malam harinya salah seorang sanak keluarganya bermimpi bahwa Datu Sulaiman kembali berkubur ketempat yang sudah diwasiatkannya yaitu dikampung Padang Basar, siang harinya kemudian dia ceritakan kepada keluarga lainnya, oleh keluarga akhirnya disepakati untuk membongkar makam di kampung Pangacangan dengan disaksikan seluruh warga, anehnya mayat Datu Sulaiman benar benar tidak ada dan mereka hanya menemukan buluh barencong (bambu yang dibikin runcing).
Sedangkan dikampung padang Basar muncul onggokan tanah dan onggokan tanah tersebutlah yang diyakini oleh seluruh masyarakat sebagai makam Datu Sulaiman dan diziarahi sampai sekarang.     “wallahu a’lam bissawab”.
kiranya cukup sekian cerita tentang Datu Sulaiman yang mempunyai berbagai macam karamah dan kesaktian dan mempunyai makam dua.
Ditulis Ulang oleh : Saiful Bahri