Mengenal Al Habib Soleh Al Hamid Tanggul

3952

fokusbatulicin.net – Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid, dilahirkan di desa Qorbah Ba Karman, Hadramaut, Yaman pada 17 Jumadul Ula tahun 1313 H bertepatan pada tahun 1895 M. Di dalam manakib disebutkan bahwa silsilah dan nasab Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid sampai pada Rasulullah SAW yaitu, dari cucunya Iman Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Berdasarkan garis keturunan tersebut, Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid termasuk ke dalam golongan sayyid. Pada golongan ini terbagi ke dalam kelompok- kelompok dengan jumlah yang sangat besar jumlah anggotanya. Di dalam tradisi keturunan Arab, setiap golongan dalam pemberian nama pada anaknya diikuti dengan marga dari kakek terdahulunya. Atas nasabnya tersebut, Habib Sholeh menyandang marga al-Hamid. Nasabnya menyambung sampai kepada Muhammad SAW.

Habib Sholeh lahir dari keluarga seorang ulama sufi yang juga bekerja sebagai pedagang di Hadramaut. Ayahnya bernama Al Habib Muhsin bin Hamid sedangkan Ibunya bernama Aisyah. Menurut penuturan dari keturunannya saat di Hadramaut, Habib Muhsin kerap didatangi masyarakat Ba Karman untuk meminta barokah doa.Sedangkan Ibunya bernama Aisyah, berasal dari kalangan Al-Amudi dan nasabnya masih tersambung dengan Abu Bakar Asshidiq.

Berikut beberapa pendapat Habaib yang sezaman mengenai kepribadian Habib Sholeh yang termuat dalam Media Aswaja. Mereka mengakui keagungan derajat Habib Sholeh dan kemustajaban doanya.

Wahai Habib Sholeh engkau adalah orang yang doanya selalu terkabul dan engkau sangat dicintai oleh Tuhanmu dan segala perohonanmu selalu dikabulkan”

Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah, mengatakan:

Sesungguhnya Habib Sholeh ini adalah seorang habib yang sangat agung kedudukannya dan amat tinggi martabatnya. Dan Dia doanya selalu terkabul dan sangat dicintai serta disegani”

Dari penuturan beberapa Habaib yang sezaman dengan Habib Sholeh menguatkan pendapat para pengikutnya bahwa Dia adalah orang yang sangat arif dan merupakan wali Allah SWT. Sehingga muncul keyakinan dikalangan mereka bahwa doa yang dipanjatkan oleh Habib Sholeh akan dikabulkan karena kedudukan tinggi martabatnya di sisi Allah SWT.

Habib Sholeh terlahir dari keluarga yang sederhana dan terdidik dalam lingkungan keagamaan yang baik. Sejak masih kecil Dia sudah diberikan bimbingan oleh ayah dan keluarganya. Pendidikannya dimulai dari daerah asalnya, Hadramaut. Pendidikan yang diajarkan oleh Habib Muhsin yakni mulai dari pendidikan dasar Islam, seperti dalam melaksanakan suatu praktik keagamaan dalam beribadah berdasarkan ajaran Rasulullah SAW. Disamping itu Dia juga mengerjakan Ilmu Fiqih dan Ilmu Tasawuf. Dia menimba pendidikan al- Qur’an di bawah bimbingan Asy-Syeikh Said Ba Mudhij di Wadi’ Amd, Hadramaut.

Pendidikan dalam keluarga yang sangat kuat menerapkan prinsip-prinsip keagamaan salaf, telah membentuk pribadi Habib Sholeh sebagai pecinta Ilmu. Sejak saat muda Dia gemar mengunjungi dan menimba ilmu dari da’i para ulama terkemuka. Dalam buku 17 Habaib Paling Berpengaruh di Indonesia Habib Sholeh bertemu beberapa Habaib terkemuka, dimana Dia menggali banyak Ilmu dan bertukar informasi.

Adapun ulama yang sering Dia kunjungi adalah Habib Abdullah bin Muhammad Assegaf (Gresik), Habib Husain Hadi Al Hamid (Mbrani – Probolinggo), Al- Habib Hamid bin Imam Al Habib Muhammad bin Salim as-Sry (Malang), Al Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Putra dari Habib Ali Kwitang Jakarta). Sikap gemar menyambung silaturahmi kepada para ulama dan auliya inilah yang menjadi salah satu sifat keturunan alawiyyin. Pendidikan yang diajarkan di kalangan alawiyyin berada di dalam lingkungan salaf. Sehingga Dia membentuk karakter yang shaleh dan berakhlak terpuji dalam dirinya.

Semasa hidup Habib Sholeh terkenal sebagai seorang Sastrawan yang pawai dalam merangkai syair-syair. Hal ini dikuatkan oleh penuturan salah satu keturunan Dia, semasa hidupnya Habib Sholeh gemar melantunkan syair-syair pujian kepada Allah SWT. Kemudian syair-syair tersebut dirangkai oleh salah satu muridnya bernama Uztad Abdullah Zahir. Kumpulan syair- syair tersebut dibukukan, kemudian diberi nama “Diwan Al-Isyqi Was- Shofa Fi mahabbati Al- Habib Al- Musthofa” yang memiliki arti (Antologi Asmara Nan Suci Tentang Cinta Nabi Terkasih Al- Musthofa). Di dalam kitab tersebut termuat sebanyak 105 qasidah yang dicetak menjadi 59 halaman. Dimana pada setiap qosidah terdapat tema pembahasan yang berbeda- beda.

Habib Sholeh mengungkapkan rasa cinta pada Rasulullah, Ahlul Bait serta nasehat-nasehat dalam rangkaian syair arab dalam model Assyi’rul Humaini (semacam puisi rakyat Yaman) dan menggunakan tingkat kebahasaan yang sangat tinggi, bukan sejenis Syair Arab Fusha yang bisa dipelajari menggunakan Ilmu Arudh. Menurut penuturuan keturunan Dia, karya syair Habib Sholeh memilki tingkatan sastra yang sangat tinggi. Beberapa keluarga ataupun ulama sudah mencoba beberapa syair untuk diterjemahkan. Namun mereka mengakui kerumitan dalam proses penggubahannya.

Salah satu qasidah Habib Sholeh yang terkenal dan sering dilantunkan oleh para munsyid yaitu, Qasidah Ya ahla Baitin Nabi. Dalam syair ini, Habib
Sholeh mengungkapkan tentang keutamaan mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Berikut kutipannya:

Artinya : “ Wahai keluarga Nabi, wahai ahli kebeningan hati dan munajah. Beruntung orang yang mencintai kelian, ia akan mendapatkan apa yang ia cita- citakan. Ia berjalan di ridho Tuhan pada pagi dan sore harinya. Semua keinginan dan harapannya akan tercapai. Setiap orang yang mencintai kalian akan bahagia, bahagia, bahagia. Dengan syafaat dari Nabi terpilih di hari bersua dengannya (kiamat)……..

Salah satu peran Habib Sholeh dalam hal ini yaitu, sebagai penafsir pesan Tuhan bagi umat. Peran inilah yang menjadi salah satu sumber “otoritas keagamaan” yang dimilikinya. Dengan legitimasi keilmuan, Habib Sholeh menciptakan suatu karya untuk memberikan sumbangsih keilmuan bagi masyarakat.

Kedatangan Habib Sholeh ke Lumajang awalnya untuk mengunjungi sepupunya yaitu Al Habib Husain bin Muhsin Al Hamid. Sepupunya tersebut lebih dulu berhijrah ke Jawa dan menetap di Lumajang. Dia memiliki posisi tinggi di Lumajang, yaitu sebagai ketua dari Komunitas Arab yang ada di Lumajang. Hal ini sama seperti pendapat Van den Berg dalam karyanya yang berjudul Orang Arab di Nusantara yang mengatakan bahwa migrasi orang arab di Nusantara salah satunya dilatar belakangi oleh faktor kekeluargaan. Bahwasanya mereka mendatangi sanak saudaranya untuk memberikan informasi mengenai keluarganya.

Baca Juga  MANFAAT SIWAK oleh : Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz:

Habib Sholeh memulai berinteraksi dengan masyarakat sekitar dengan belajar mengenai kebudayaan serta tradisi yang ada di wilayah Lumajang. Masyarakat Lumajang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi. Karena Dia seorang pendatang, maka Dia banyak belajar kepada sepupunya Habib Husain yang lebih menguasai tentang bahasa keseharian masyarakat Lumajang. Namun setelah itu Habib Sholeh menikah dengan salah satu kembang desa yang berada di Tempeh.

Kemudian Dia berpindah tempat ke Desa Tempeh, yang berada di sebelah selatan dari pusat kota Lumajang. Di Tempeh Dia membangun rumah yang terletak di salah satu gang yang bernama Gang Sumber, dan rumah Dia terletak di ujung. Di daerah dekat rumah Habib Sholeh terdapat Sendang atau waduk kecil, dimana masyarakat sering menggunakan sendang tersebut untuk keperluan sehari- hari.

Begitu pula Habib Sholeh dan keluarganya menggunakan sendang untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari. Namun menurut penuturan Habib Hasan bin Muhammad yang merupakan cucu sekaligus pengelola rumah dan Sumur Habib Sholeh menyebutkan bahwa karena kondisi sendang pada saat itu kurang kondusif sehingga Habib Sholeh memutuskan untuk membangun sumur pribadi yang berlokasi di samping kiri rumahnya.

Pembangunan sumur penuh barokah, menurut penuturan Habib Hasan bin Abdullah mengatakan bahwa terdapat tiga ulama besar yang berpengaruh dalam pembangunan sumur. Ketiga ulama besar tersebut yaitu, Habib Jakfar bin Syaikhan Assegaf (Pasuruan), Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) dan Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid. Sekilas tampak biasa saja pada sumur tersebut, dan sama seperti sumur lainnya. Namun kejadian yang tidak bisa di logikakan terjadi pada sumur Habib Sholeh.

Menurut penuturan Habib Hasan bin Muhammad suatu ketika terdapat seorang yang sedang sakit keras, datang kepada Habib Sholeh dan meminta barokah dari air sumur tersebut. Habib Sholeh pada saat itu tidak begitu yakin dengan kepercayaan sumur tersebut bisa menyembuhkan penyakit. Oleh sebab itu Dia meminta saran kepada kerabat Habaib lainnya mengenai solusi terbaik. Akhirnya diputuskan solusi terbaik dengan mendoakan sumur tersebut, meminta barokah agar bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam proses mendoakan sumur tersebut Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf berperan sangat penting, yaitu Dia mendoakan sumur tersebut kemudian meludahinya dengan keyakinan meminta berkah kepada Allah.

Menurut penuturan dari salah satu keturunannya, Habib Hasan bin Muhammad bahwa Habib Sholeh memiliki kelebihan yang biasanya dikenal dengan istilah karomah. Karomah yang didapatkan Habib Sholeh ini karena Dia orang yang berakhlak arif dan menebar kebaikan untuk umat. Menurut penuturan Habib Hasan salah satu kebaikan yang dilakukan Habib Sholeh saat di Tempeh yaitu, Dia membagikan secara cuma- cuma dagangannya berupa sarung kepada masyarakat dengan harapan agar masyarakat lebih bersemangat beribadah. Ini menjadi salah satu strategi dakwah sekaligus menebar kebaikan bagi masyarakat.

Perilaku yang dilakukan oleh Habib Sholeh ini dapat dikatagorikan sebagai dakwah bil hal. Menurut Ma’arif (1994:101) menyimpulkan bahwa dakwah di dalam al- Qur’an bukan hanya menyeru, akan tetapi ucapan yang baik, tingkah laku yang terpuji serta mengajak orang lain ke jalan yang lebih baik. Kata “bil hal” secara bahasa berasal dari Bahasa Arab (al-hal) yang artinya tindakan. Sehingga dakwah bil hal dapat diartikan sebagai proses dakwah dengan keteladanan dan perbuatan yang nyata.

Dalam hal ini merujuk pada konsepsi otoritas menurut Weber bahwa, otoritas dibangun Habib Sholeh yang dibangun atas beberapa aspek yang melegitimasi, seperti pengusaan ilmu agama serta kemampuan berkomunikasi dan massa pengikut serta kharisma yang dimiliki oleh Habib Sholeh, sehingga Dia mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Setelah kurang lebih 12 tahun Habib Sholeh menebarkan kebaikan disertai dengan penyebaran Islam, Dia memutuskan untuk melanjutkan hijrahnya. Dia membawa seluruh keluarga berpindah ke Tanggul. Sampai saat ini, masyarakat masih banyak yang mendatangi sumur dan kediaman Habib Sholeh di Tempeh Lumajang. Menurut penuturan dari Habib Hasan bin Muhammad selaku keturunan serta yang mengelola rumah dan sumur menuturkan bahwa, kondisi rumah dan sumur sudah sedikit lebih terawat. Karena terus diadakan renovasi untuk menjaga peninggalan Habib Sholeh. Sehingga masyarakat merasa nyaman untuk berkunjung ke petilasan Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid di Tempeh, Lumajang.

Habib Sholeh melanjutkan hijrahnya ke Tanggul dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Mengenai alasan hijrahnya ke Tanggul tidak diketahui secara pasti, namun salah seorang keturunannya berpendapat bahwa hijrah yang kedua Habib Sholeh mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk datang ke daerah Tanggul yang berada di Kabupaten Jember. Namun diperkirakan juga karena kondisi Tanggul yang strategis. Habib Sholeh bermukim tepat di belakang perlintasan rel kereta api Stasiun Tanggul. Diperkirakan Habib Sholeh datang ke wilayah ini antara tahun 1933 M. Pada saat itu kondisi Tanggul masyarakatnya sudah Islam namun masih awam terhadap keagamaannya. Kondisi ini menjadi titik yang tepat bagi Habib Sholeh untuk memberikan pengajaran dan menguatkan Islam pada wilayah tersebut. Dia sebagai pendatang yang memiliki latar belakang kebudayaan dengan masyarakat setempat, namun dengan akhlak dan interaksi yang baik Dia bisa diterima oleh masyarakat.

Berawal saat peristiwa khalwat yang Dia lakukan di dalam kediamannya di Tanggul. Dalam tradisi sufi, mengasingkan diri dari kesendirian dan kesunyian untuk bertafakur kepada Allah SWT disebut dengan khalwat. Terdapat beberapa argumen mengenai khalwat, Abu Bakar Aceh berpendapat bahwa maksud dari khalwat pada golongan sufi adalah belajar dalam memantapkan hati, melatih jiwa untuk selalu mengingat Allah SWT. Khalwat yang dilakukan oleh Habib Sholeh di dalam kediamannya selama 3 tahun, Dia tidak makan, minum juga tidak menemui siapapun. Menurut penuturan dari keturunan Dia, keluarga tidak mengkhawatirkan dengan keadaan Habib Sholeh. Karena muncul keyakinan bahwa Habib Sholeh akan selalu terjaga dan dekat dengan Allah SWT. Merujuk penjelasan para tokoh sufi mengenai khalwat,dalam al-Qur’an Allah telah menjelaskan tentang dasar berkhalwat yaitu pada Q.S. Maryam sebagai berikut;

Baca Juga  Takut Tahlilan?.... Ini Dalilnya !!!

. وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَأَدْعُوا۟ رَبِّى عَسَىٰٓ أَلَّآ أَكُونَ بِدُعَآءِ رَبِّى شَقِيًّا. فَلَمَّا ٱعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Artinya: “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. dan masingmasingnya Kami angkat menjadi Nabi”. (Q.S. Maryam: 48-49)

Menurut penjelasan Djamaludin Ahmad bahwa, berkhalwat memang bertujuan untuk memberisihkan diri. Ketika berada dalam kesendirian dan kesunyian itulah proses pembersihan diri dilakukan. Di dalam kesenyapan, seorang sufi merasa berada di depan Allah SAW dan menjauhkan diri dari pengaruh keduniawian, hawa nafsu dan syahwat badani. Sehingga pikirannya dikosongkan dari hal- hal yang bersifat materi. Ia menyatukan dirinya dalam ke Baqo’an, karena telah sirna semua yang bersifat materi dalam dirinya. Dalam kefanaan khalwatnya tiada lagi sesuatu dalam pandangan selain Allah SWT. Ia bermuwajjahah (bertatap muka) sepenuhnya di dalam keheningan jiwa dan keteduhan qalbu, bercengkrama dengan Allah SWT.

Selain itu, pada awal kedatangan Habib Sholeh di Tanggul. Masyarakat menerima dengan baik serta menjadikan Habib Sholeh sebagai figur yang sangat penting di Tanggul. Dengan adanya peristiwa khalwat tersebut, bisa menguatkan sosok kharismatik Habib Sholeh pada masyarakat sekitar. Hal ini serupa dengan teori kharismatik, Max Weber mendefinisikan kharismatik sebagai suatu sifat tertentu dari seseorang yang membedakan ia dengan lainnya. Kemampuan yang dimiliki ini tidak dimiliki oleh orang biasa, akan tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari Tuhan. Dengan adanya peristiwa khalwat yang terjadi pada Habib Sholeh menambah kharismatik yang ia miliki. Sehingga masyarakat memberikan kepercayaan kepada Habib Sholeh.

Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bagitu pula dengan Habib Sholeh wafat pada 8 Syawal 1396 H bertepatan pada tahun 1976 M. Namun ada beberapa perbedaan pendapat mengenai Habib Sholeh wafat pada usia 86 tahun. Adapun yang berpendapat wafat saat berusia 81 tahun. Dia dikebumikan pada hari Ahad 9 Syawal setelah sholat Dhuhur. Pada prosesi sholat jenazah dilakukan beberapa kali, karena penziarah beberapa kali dan karena banyaknya penziarah, sehingga lokasi pemakaman diletakkan samping masjid Riyadhus Sholihin Tanggul, Jember.

Karomah yang ada pada ulama alawiyyin sudah menjadi suatu kewajaran. Karena karomah didapatkan tidak terlepas dari kedekatan para alawiyyin pada Allah SWT. Begitupula dengan karomah yang diterima selama oleh Habib Sholeh, beberapa diantaranya sulit dirasionalkan.

Dalam keseharian Habib Sholeh selalu berzikir kepada Allah, seperti penuturan dari Uztad Yasir menyebutkan:

“Habib Sholeh setiap harinya selalu berdzikir tidak kurang lebih dari 70.000 dzikir, ini dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT sang pencipta”

Dari paparan di atas bisa dipahami bahwa Habib Sholeh sangat menjaga hubungannya bukan hanya dengan manusia, namun juga dengan Allah SWT. Dalam buku manaqib serta banyak diceritakan mengenai karomah Dia mengenai doa yang sangat mustajab. Bahkan dari penuturan keturunan Dia, Habib Sholeh diyakini memiliki doa yang mustajab laksana petir. Penuturan ini dipaparkan oleh cucu Dia Habib Alwi Abdullah bin Abdullah bin Sholeh al Hamid.

Diceritakan pengalaman Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (Kwitang Jakarta). Saat keduanya melintas di suatu lapang yang
diketahui berada di Jakarta. Saat itu masyarakat berkumpul dan melakukan sholat istisqo’ untuk meminta hujan. Melihat kondisi yang terjadi saat itu, menurut referensi Habib Sholeh mengatakan:

“Biarkan saya yang berdoa meminta hujan”

Kemudian Dia menengadahhkan tangan dan berdoa menghadap arsy. Beberapa saat kemudian Jakarta turun hujan deras hingga banjir setinggi mata kaki. Kesaksian lain yang menguatkan argumen mengenai kekuatan doa Habib Sholeh cepat dikabulkan yaitu dari Ali bin Abdurahman Al Habsyi saat bersamanya Dia berkata kepada Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid berkata:

“Wahai Habib Sholeh, engkau adalah orang yang selalu doanya dikabulkan. Engkau sangat dicintai oleh Tuhanmu. Segala permohonanmu selalu dikabulkan”

Kemudian Habib Sholeh menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ali bin Abdurahman Al Habsyi sebagai berikut:

“Aku belum pernah melakukan perbuatan yang membuat Allah SWT murka”

Dari penuturan di atas dapat dipahami bahwa Habib Sholeh mempunyai hubungan yang baik dengan Allah. Dia tidak pernah melakukan suatu tindakan yang membuat Allah SWT murka kepadanya. Ini menjadi salah satu contoh perilaku yang baik, seperti yang telah di paparkan di atas mengenai penyampaian keagamaan oleh Habib Sholeh.

Sosok kharismatik Habib Sholeh telah mendapatkan kepercayaan penuh masyarakat. Dia bukan lagi menjadi ulama pendatang yang memiliki latar belakang kultur budaya yang berbeda dengan masyarakat setempat. Akan tetapi dengan nilai-nilai keislaman yang dibawanya sebagai pendekatan agama kepada masyarakat mampu menjadikan Dia sebagai ulama terpenting di Tanggul. Agama juga bisa membantu masyarakat untuk menginterprestasikan realitas sosial melalui proyeksinya dalam bahasa simbolik tertentu.121 Di dalam bahasan ini Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid berperan sebagai makelar budaya (cultural broker) yang dapat menjembatani penyaringan nilai-nilai budaya baru pada masyarakat melalui nilai-nilai yang diterapkannya.

(https://wongjember.com/habib-sholeh-tanggul)