Kisah & Karamat Ahli Thoriqat Asal Takisung (Bagian I)

2701

Ahli Thoriqat Asal Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur Dzuriat Ke-5 Abdul Hamid Abulung

fokusbatulicin.net -Di kalangan tokoh ulama kharimastik di Kalimantan Selatan, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung adalah salah seorang di antaranya yang memiliki maqam sangat mulia di hadapan Allah Swt. Namun demikian, tidak banyak masyarakat Kalimantan Selatan yang mengenal lebih detil tentang keseharian maupun silsilah ulama yang satu ini.

Karena itu, untuk menambah wawasan atau khazanah perjalanan sosok seorang wali Allah di Kalimantan Selatan, Al Mukarram Al Arifbillah, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung. berikut sebagian manakib beliau.

Tuan Guru Muhammad Nur yang dikenal dengan tambahan nama di ujung, yakni Takisung disebabkan karena telah tinggal di pesisir Pantai Takisung, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut.
Sesungguhnya, kedua orang tuanya merupakan penduduk asli Desa Teluk Selong Seberang, Martapura, Kabupaten Banjar.

Hanya sedikit orang yang mengenal silsilah Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, yang merupakan anak dari Syekh Ibrohim Khaurani bin Syekh Muhammad Amin bin Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Abul Hamim bin Syekh Abdul Hamid Abulung (bermakam di Desa Sungai Batang Seberang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar). Atau dengan kata lain, Tuan Guru Muhammad Nur adalah dzuriat ke 5 dari Syekh Abdul Hamid Abulung.

Tuan Guru Muhammad Nur Takisung dilahirkan di Kediri, Jawa Timur pada tahun 1918 masehi. Kemudian wafat di Desa Takisung, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, pada Rabu, 25 Jumaddil Awal 1414 H atau 10 November 1993 Hijriah, tepatnya di usia 75 tahun.

Sekarang tokoh ulama yang membimbing ilmu untuk dekat kepada Sang Khalik, melalui 3 thoriqat gabungan, thoriqat nuqsabandiyah, syadzaliah dan qadariyah ini telah bermakam persis di depan rumahnya di Desa Takisung, tak jauh dari lokasi objek wisata Pantai Takisung. Begitu pula dengan orangtuanya, Syekh Ibrohim Khaurani juga bermakam di sekitar pesisir Pantai Takisung.

Tuan Guru Muhammad Nur Takisung memiliki beberapa istri, satu di antaranya yang memiliki dzuriat cukup banyak dari istri yang bernama Syariah. Hingga sekarang istrinya yang satu ini masih hidup dan tinggal di rumah yang ditempati Tuan Guru Muhammad Nur semasa hidup di Takisung.

Adapun dzuriat atau anak-anak dari Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, yakni Badi’ul Jamil, Noorsehat, Haji Syaifuddin, Haji Abdul Hamid, Hamidah, Haji Abdullah Mukti, Haji Abul Hamim,
Abdurrahim, Abu Bakar dan Umar Sadjali. Sebagian besar anak-anak Tuan Guru Muhammad Nur Takisung bermukim di Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut.

Baca Juga  12 Nasihat Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz

Semasa zaman penjajahan, Tuan Guru Muhammad Nur merupakan seorang pejuang revolusi. Beliau mendapat gemblengan tentang Ilmu Tauhid dari orangtuanya, Syekh Ibrohim Khaurani.

Sebelum menetap membuka pengajian thoriqat di Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur juga sempat berkhalwat untuk melazimkan ilmu tauhidnya di Desa Kintap. Bahkan di sana dia sempat mengajarkan ilmu thoriqat kepada sejumlah muridnya.

Tidak jarang murid-muridnya menjumpai kejadian yang tidak
lazim atau karomah yang muncul dari perbuatan Tuan Guru Muhammad Nur Takisung.

Salah satunya, ketika itu Tuan Guru Muhammad Nur Takisung bersama murid-muridnya melakukan perjalanan dari Kintap menuju Takisung. Di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil yang ditumpangi kehabisan bahan bakar.

Sementara titik lokasi terhentinya mobil tersebut sangat jauh dari keramaian untuk bisa membeli bahan bakar. Kemudian, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung mengambil air sungai dengan menggunakan ember, kemudian memasukkan air tersebut ke dalam tangki mobil. Dengan izin Allah, mobil tersebut bisa hidup kembali, hingga sampai ke tujuan, rumahnya di Desa Takisung.

Tuan Guru Muhammad Nur Takisung bin Syekh Ibrohim Khaurani tidak hanya dikenal sebagai tuan guruyang membimbing murid-muridnya untuk taqarrub (dekat) kepada Allah Swt. Akan tetapi,
kesehariannya juga sering memberikan teladan dan pelajaran buat masyarakat sekitar Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut, bahkan kerap menimbulkan decak kagum para murdinya yang kini tersebar di banyak provinsi, termasuk dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Timur hingga Asia.

Selain sebagai mursyid atau pembimbing thoriqat, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung sehari-hari hanyalah seorang petani. Tak jauh dari rumahnya di Desa Takisung, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung memiliki lahan perkebunan dan pertanian. Waktu sehari-harinya dihabiskan untuk berkebun, melayani
masyarakat serta membimbing murid-muridnya.

Setiap hari, baik sejak masih hidup hingga sekarang, rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai daerah. Bahkan tidak jarang pula, tamu yang datang dilayani bak “Raja” di rumahnya, di siapkan kamar untuk istirahat, makan dan minum seperti di rumah sendiri. Satu hal kebiasaan yang diterapkan Tuan Guru Muhammad Nur hingga diikuti istri dan anak-anaknya sampai sekarang, antara lain, menyiapkan makan untuk tamu. Berapa pun jumlah tamu yang datang ke rumahnya, tidak diperkenankan pulang, sebelum makan terlebih dulu.

Baca Juga  Manggis, Manis Manfaatnya

“Suatu ketika pernah tamu datang dengan jumlah yang banyak, kalau tidak salah beberapa bis. Sedangkan persediaan beras saat itu untuk dimasak diperkirakan sangat tidak mencukupi untuk
menjamu semua tamu. Waktu itu Kai (Tuan Guru Muhammad Nur Takisung) cuma bilang, masak aja seadanya. Alhamdulillah….beras yang tadinya dimasak, malah belabihan (lebih) untuk menjamu semua tamu,” demikian ungkap seorang murid Tuan Guru Muhammad Nur, yang tak ingin namanya
disebutkan.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan, tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah seringkali menceritakan pengalaman bertamu ke rumah Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, yang selalu disuguhi
makanan dulu, baik makan pagi, siang, sore atau makan malam, sesuai dengan waktu datangnya tamu.

Kisah lain yang menarik dari keistimewaan Tuan Guru Muhammad Nur Takisung, dia tidak pernah membiarkan tamu yang datang dengan berbagai hajat, pulang dengan tangan hampa. Tamu yang datang sering dibekali apa saja yang dimiliki, baik itu buah-buahan, sayur, ikan atau apa saja yang dimiliki.

Begitu pula ketika tamu ingin mendapat jawaban tentang persoalan agama, selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Pernah satu ketika, ada seorang tamu yang menanyakan atau meminta jawaban agar terbebas dari kewajiban sholat. Si tamu bertanya, “Bagaimana caranya supaya ulun boleh tidak  melaksanakan kewajiban sholat.” Jawaban Tuan Guru Muhammad Nur sungguh mengejutkan dan bijaksana.

Dia tidak menjawab, bahwa tidak boleh atau sholat itu wajib. Dia justru menjawab begini, “Ikam boleh saja lepas dari kewajiban sholat atau tidak wajib melaksanakan sholat, asalkan ikam sanggup berjalan di siang hari dari rumah ini sampai ke Pelaihari tanpa busana atau bertelanjang (baca: gila / mengalami gangguan
jiwa, Red). Kalau sanggup, boleh tidak sholat lagi,” jawab dia.

Mendengar jawaban itu, Si Tamu hanya bisa manggut-manggut dan tidak bisa berkata-kata lagi. Nah, kejadian-kejadian tersebut hanya sebagian kecil keistimewaan Tuan Guru Muhammad Nur dalam melayani tamu. Tentunya masih banyak hikmah dan teladan yang dapat dipetik dari kebiasaan Tuan Guru Muhammad Nur Takisung. (Korabbanjar.net / Ditulis Ulang Oleh : 15ur)