Kisah dan Karomah KH. M Ideram Lawahan Rantau

640
fokusbatulicin.net – Al Mukarram Al ‘Alimul “Allamah H. M. Ideram lahir di desa Lawahan tahun 1914 M sedangkan beliau Wafat pada malam Jumat tahun 1975 M dalam keadaan sujud di sajadahnya, ketika beliau sedang melaksanakan Shalatul Lail yang telah menjadi kebiasaannya setiap malam selama hidupnya. Beliau adalah seorang ulama yang membawa syiar Islam dalam lingkungan masyarakat lebih cenderung Bilhal ( perilaku ) .
Ulama yang satu ini lebih suka memberi contoh kebaikan, bersikap lemah lembut, penyayang tanpa banyak berbicara. Sikap beliau ini berbeda dengan ipar beliau yaitu Al Mukarram Tuan Gr. H. M. Kasyful Anwar ( Lahir 1916 M – Wafat 1991 M ) yang lebih banyak berdakwah Bil Lisan ( ucapan ) disamping Bilhal. Sepasang tokoh masyarakat berdua ini , selama hidup mereka senantiasa menyebarkan syiar –syiar Islam dengan mengajarkan kitab kuning di lingkungan masyarakat sekitar tanpa mengenal lelah.
Di antara Karamah Tuan Guru H. M. Ideram :
1. Beliau meninggal malam Jumat dalam keadaan sujud ketika Shalatul Lail.
2. Dalam sehari-semalam ( 24 jam ) sering mengkhatamkan Al quran .
3. Di hari beliau meninggal hujan gerimis padahal saat itu musim panas.
4. Pernah terlihat cahaya memancar dari kubur beliau.
5. Beliau pernah bercerita bahwa dalam tidurnya bermimpi melihat
syurga dan masuk ke dalamnya. Kemudian duduk di atas kursi emas dalam syurga tersebut .
6. Almarhum pernah mengeluarkan pernyataan di sebuah pertemuan lebih kurang 50 tahun yang lalu. Beliau berkata, “ bahwasanya aku melihat di belakang kampung Lawahan arah sebelah selatan, disana akan terdapat pelabuhan dengan kapal hilir mudik dan listrik akan menyala terang benderang “. Lalu beliau mengatakan pula , “ Daerah rimba ( rawa ) nantinya akan menjadi daerah perkebunan “.
Ketika beliau mengutarakan hal tersebut orang-orang yang mendengar merasa bingung dan bertanya-tanya dan rasanya tidak masuk akal, sebab kampung Lawahan di masa itu pada malam hari selalu gelap gulita tanpa ada penerangan listrik. Apalagi daerah rimba ( rawa ) tidak mungkin menjadi daerah perkebunan karena mustahil bisa di tanami.
Alhamdulillah perkataan Tuan Guru H. M. Ideram ± 50 tahun yang lalu itu telah menjadi kenyataan . Sekarang di sebelah selatan dari kampung Lawahan terdapat pelabuhan tongkang dan terdapat kanal untuk kapal batu bara hilir mudik berlabuh dengan cahaya listrik yang terang benderang terlihat setiap malam hari. Kemudian daerah perkebunan yang beliau utarakan tersebut telah terbukti dengan banyaknya pohon-pohon kelapa sawit yang tumbuh subur ( Perkebunan Kelapa Sawit ) di daerah rimba itu.
Mudah mudahan Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan karunianya kepada beliau dan seluruh keturunannya beserta seluruh orang orang yang mencintai beliau.(Ipunk)