Kasus Bullying Diponpes Masih Meninggalkan Tanda Tanya

41
Kasus kekerasan atau perundungan (bullying) hingga berujung korban jiwa di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) masih terus terjadi, termasuk yang terbaru di Kediri, Jawa Timur.

Kementerian Agama (Kemenag) dinilai ‘kecolongan’ karena gagal menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan.

Baru-baru ini publik dikejutkan oleh kasus kematian Bintang Balqis Maulana (14), santri asal Banyuwangi yang mondok di Pesantren PPTQ Al Hanifiyyah, Mojo, Kediri. Almarhum tewas dengan kondisi banyak luka lebam dan robek di tubuhnya.

Polisi kemudian menetapkan total 4 tersangka yang merupakan sesama santri hingga senior korban dalam kasus tersebut. Rinciannya yakni MN (18) asal Sidoarjo, MA (18) asal Nganjuk, AK (17) dari Kota Surabaya, dan AF (16) sepupu korban asal Denpasar.

Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren itu menambah catatan masih berulangnya perundungan atau penganiayaan berujung maut di lingkungan pesantren yang masih terus berulang.

Berdasarkan data Catatan Akhir Tahun Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) disepanjang 2023, setidaknya terdapat 30 kasus perundungan dengan kekerasan yang dilaporkan ke Polisi.

Baca Juga  Hujan 5 Jam, Samarinda Langsung Banjir

FSGI mencatat dari jumlah tersebut sebanyak 20 persen kasus perundungan dengan kekerasan justru terjadi di satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Kemenag.

Salah satu kasus kekerasan hingga berujung korban jiwa terjadi di Ponpes Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat, pada 4 Desember 2023. Ketika itu salah satu santri berinisial MHAD (18), meninggal dunia diduga korban pengeroyokan temannya sesama santri.

Selain itu, kasus serupa juga pernah dialami oleh salah satu Ponpes di Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah. Santri berinisial N ditemukan meninggal usai diduga dianiaya teman satu kamar karena mencuri uang temannya, pada 10 September 2023.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Semarang Edi Subkhan menilai kasus kekerasan di lingkungan ponpes banyak dipengaruhi oleh kultur ataupun hierarki yang ada di antara para santri junior dan senior.

Ia menjelaskan dalam banyak kasus di pelbagai pesantren, para santri junior kerap didoktrin agar tidak memprotes seluruh tindakan yang dilakukan senior. Kondisi itu, kata dia, sering kali diperparah dengan kurangnya kepekaan dari pesantren untuk meminimalisasi potensi konflik yang terjadi.

Baca Juga  MUI Tanbu Gelar Orientasi Fiqh Nisa

“Terulangnya kasus kekerasan ini karena pihak pesantren kurang peka terhadap potensi konflik yang bisa muncul dalam pergaulan antar santri,” jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/2).

Menurut Edi kasus-kasus kekerasan di lingkungan pesantren yang mencuat ke publik saat ini hanya puncak gunung es. Ia meyakini masih banyak aksi kekerasan yang dialami santri, namun tidak pernah muncul ke permukaan.

“Senioritas terjadi di mana saja termasuk di sekolah umum. Namun di pesantren terdapat hirarki dan kultur yang seringkali mengarahkan santri junior untuk menerima dan tidak banyak protes,” jelasnya.

“Hal ini yang bisa jadi menjadikan perundungan dan kekerasan terjadi dan tidak banyak muncul. Karena santri tidak dibiasakan untuk bersuara,” imbuhnya.

Baca artikel CNN Indonesia “Ruang Gelap Aksi Kekerasan Maut di Lingkungan Pesantren” selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20240229130102-12-1068740/ruang-gelap-aksi-kekerasan-maut-di-lingkungan-pesantren.

Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/